Pelayanan kesehatan modern saat ini berkembang sangat pesat. Kemajuan teknologi medis memungkinkan dokter dan tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang berfokus pada pasien seperti transplatasi organ. Perkembangan ini memberikan manfaat besar bagi pasiennamun di sisi lain juga memunculkan berbagai persoalan etik dalam praktik klinis sehari-hari. (Molewijk et al., 2016). Dalam dunia medis, tidak semua keputusan dapat ditentukan hanya berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium atau diagnosis penyakit. Banyak situasi klinis yang melibatkan pertimbangan moral, nilai kemanusiaan, kondisi psikologis pasien, harapan keluarga, serta keterbatasan sumber daya rumah sakit. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai dilema etik klinis. (Aulisio et al., 2000).
Contoh, tenaga kesehatan dapat menghadapi situasi seperti
- Bagaimana mengambil keputusan keluarga dan pasien memiliki keinginan berbeda
- Bagaimana menentukan prioritas pasien ketika ruang ICU terbatas
- Bagaimana menjaga keseimbangan antara harapan keluarga dan kondisi medis pasien yang sebenarnya
Situasi seperti ini menimbulkan konflik moral bagi tenaga kesehatan. Oleh karena itu Clinical Ethics dapat membantu menghadapi dilemma etik .
- Apa itu Clinical Ethics Support ?
Clinical Ethics Support (CES) adalah layanan yang membantu tenaga kesehatan menghadapi dilema etik dalam praktik medis sehari-hari. Layanan ini membantu dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya untuk:
- memahami dilemma etik
- mendiskusikan pilihan keputusan,
- mempertimbangkan nilai pasien dan keluarga,
- mengambil keputusan medis yang lebih bijaksana dan etis
Clinical Ethics Support bukan bertujuan menggantikan keputusan dokter. Sebaliknya, layanan ini membantu proses pengambilan keputusan menjadi lebih reflektif, terbuka, dan mempertimbangkan berbagai aspek, baik medis maupun etik
Bentuk -Bentuk Clinical Ethics Support
- Clinical Ethics Committees (CEC)
Clinical Ethics Committees kadang disebut komite etika rumah sakit adalah bentuk clinical ethics support yang ada di banyak negara Beberapa variasi dalam keanggotaan komite etik. Sebagian besar CEC berasal dari berbagai professional kesehatan seperti dokter, perawat,serta anggota awam. Salah satu strengths yang dirasakan adalah beragam perspektif yang dapat diterapkan pada isu-isu etika. CEC akan menyertakan ahli bioetika atau seorang pengacara dalam komite untuk memberikan pengetahuan atau ketrampilan khusus dalam hukum dan etika dan beberapa melibatkan spesialis Ketika mempertimbangkan kasus klinis tertentu dimana komite tersebut kurang memiliki pengetahuan tentang bidang klinis. Beberapa negara seperti di AS dan Norwegia top to down dan pada negara Inggris, Belanda, Jerman, dan Taiwan dari bottom up . Peran CEC adalah menyediakan layanan konsultasi dilemma etika, memberikan nasihat terkait dimensi etika dan pedoman institusional, identitas organisasi, dan mendukung manajemen dalam masalah etika yang muncul di tingkat organisasi, dan memfasilitasi Pendidikan staf terkait dilemma etika.
- Ethics Consultants : Individuals and small teams
Clinical ethics consultation sebagai Clinical Ethics Support adalah layanan yang diberikan oleh individua tau tim kecil untuk membantu, mengidentifikasi, menganalisis, dan meyelesaikan konflik nilai dalam kasus (Aulisio et al, 2000). Layanan ini berkembang di lingkungan perawatan kesehatan lainnya termasuk perawatan panti jompo dan hospice (O’Brien, 2005). Isu -isu yang biasanya muncul meliputi keputusan akhir hidup, persetujuan berdasarkan informasi dan kapasitas pengambilan keputusan, kerahasiaan dan privasi, peran wali dalam pengambilan keputusan, dan berbagai isu terkait alokasi sumber daya dan akses ke perawatan (Aulisio et al., 2000).
Ahli etika klinis adalah orang-orang yang mungkin mengabdikan diri sebagian atau seluruh waktu untuk kegiatan bioetika klinis sebagai kegiatan utama (misalnya konsultasi, Pendidikan, peninjauan/pengmbangan kebijakan)
- Moral Case Deliberation
Moral Case Deliberation (MCD) adalah diskusi kelompok reflektif dimana sekelompok professional kesehatan berdiskusi tentang dilemma etik yang difasilitasi oleh fasilitator terlatih seringkali seorang ahli etika. Sesi ini memberi kesempatan paraprofessional untuk berbagi pengalaman, sudut pandang, dan perspektif mereka secara terbuka (Widdershoven & Molewijk, 2010)
- Clinical Ethics Support dan Pelayanan Berpusat pada Pasien
Salah satu tujuan utama Clinical Ethics Support adalah mendukung patient-centered care atau pelayanan yang berpusat pada pasien.
Artinya, keputusan medis tidak hanya mempertimbangkan penyakit pasien, tetapi juga:
- nilai hidup pasien,
- harapan pasien,
- kualitas hidup,
- kondisi psikologis,
- keyakinan budaya dan spiritual,
- serta preferensi keluarga. (Molewijk, Slowther and Aulisio, 2016).
Dalam situasi seperti ini, CES membantu tenaga kesehatan memahami bahwa keberhasilan pelayanan medis tidak selalu berarti menyembuhkan penyakit, tetapi juga memberikan perawatan yang manusiawi dan bermartabat.
- Tantangan Penerapan Clinical Ethics Support
Walaupun penting, penerapan Clinical Ethics Support masih menghadapi berbagai tantangan terutama di negara berkembang . beberapa tantangan tersebut meliputi
- Kurangnya tenaga ahli bioetika klinis,
- Minimnya pelatihan etik bagi tenaga kesehatan,
- Budaya rumah sakit yang masih hierarkis,
- Keterbatasan waktu diskusi,
- Belum adanya sistem etik klinis yang terstruktur.
Tenaga kesehatan sering menghadapi tekanan kerja yang tinggi sehingga tidak memiliki ruang yang cukup untuk melakukan refleksi etik terhadap kasus yang dihadapi
Penulis : Ardhini Nugrahaeni, M.K.M
References
Abma, T., Molewijk, B. and Widdershoven, G. (2009) ‘Good care in ongoing dialogue: improving the quality of care through moral deliberation and responsive evaluation’, Health Care Analysis, 17(3), pp. 217–235.
American Society for Bioethics and Humanities (ASBH) (2010) CECA Report to the Board of Directors: Certification, Accreditation, and Credentialing (C/A/C) of Clinical Ethics Consultants. Glenview, IL: ASBH.
Aulisio, M.P., Arnold, R.M. and Youngner, S.J. (2000) ‘Health care ethics consultation: nature, goals, and competencies. A position paper from the Society for Health and Human Values–Society for Bioethics Consultation Task Force on Standards for Bioethics Consultation’, Annals of Internal Medicine, 133(1), pp. 59–69.
Fox, E., Myers, S. and Pearlman, R.A. (2007) ‘Ethics consultation in United States hospitals: a national survey’, The American Journal of Bioethics, 7(2), pp. 13–25. doi:10.1080/15265160601109085.
Molewijk, B., Abma, T., Stolper, M. and Widdershoven, G. (2008) ‘Teaching ethics in the clinic: the theory and practice of moral case deliberation’, Journal of Medical Ethics, 34, pp. 120–124.
Molewijk, B., Hartman, L., Weidema, F., Voskes, Y. and Widdershoven, G. (2015) ‘Fostering the ethics of ethics consultants in health care: an ongoing participatory approach’, The American Journal of Bioethics, 15(5), pp. 60–62.
Molewijk, B., Slowther, A. and Aulisio, M. (2016) ‘Clinical Ethics: Support’, dalam ten Have, H. (ed.) Encyclopedia of Global Bioethics. Dordrecht: Springer. Available at: Springer Link.
O’Brien, L.A. (2005) ‘Establishing and educating a long-term care regional ethics committee: the NJ model’, Journal of the American Medical Directors Association, 6(1), pp. 66–67. doi:10.1016/j.jamda.2004.12.013.
Pedersen, R., Hurst, S., Schildmann, J., Schuster, S. and Molewijk, B. (2010) ‘The development of a descriptive evaluation tool for clinical ethics case consultations’, Clinical Ethics, 5, pp. 136–141.
Schildmann, J., Molewijk, B., Benaroyo, L., Førde, R. and Neitzke, G. (2013) ‘Evaluation of clinical ethics support services and its normativity’, Journal of Medical Ethics, 39(11), pp. 681–685.
Slowther, A.M., Hope, T. and Bunch, C. (1999) ‘Clinical ethics committees in the UK’, Journal of the Royal College of Physicians of London, 33(3), pp. 202–203.
Slowther, A.M., McClimans, L. and Price, C. (2012) ‘Development of clinical ethics services in the UK: a national survey’, Journal of Medical Ethics, 38(4), pp. 210–214.
Stolper, M., Molewijk, B. and Widdershoven, G. (2015) ‘Learning by doing: training health care professionals to become facilitators of moral case deliberation’, HEC Forum, 27(1), pp. 47–59. doi:10.1007/s10730-014-9251-7.
Svantesson, M., Karlsson, J., Boitte, P., Schildmann, J., Dauwerse, L., Widdershoven, G., Pedersen, R., Huisman, M. and Molewijk, B. (2014) ‘Outcomes of moral case deliberation: the development of an evaluation instrument for clinical ethics support (the Euro-MCD)’, BMC Medical Ethics, 15, p. 30.
Tarzian, A., Wocial, L. and the ASBH Clinical Ethics Consultation Affairs Committee (2015) ‘A code of ethics for healthcare ethics consultants: journey to the present and implications for the field’, The American Journal of Bioethics, 15(5), pp. 38–51.
Widdershoven, G. and Molewijk, B. (2010) ‘Philosophical foundations of clinical ethics: a hermeneutic perspective’, dalam Schildmann, J., Gordon, J. and Vollmann, J. (eds.) Clinical Ethics Consultation: Theories and Methods, Implementation, Evaluation. Farnham: Ashgate, pp. 37–51.





