
Perkembangan teknologi reproduksi berbantu, khususnya fertilisasi in vitro (IVF), membawa harapan baru bagi pasangan yang menghadapi persoalan infertilitas. Namun, di balik kemajuan tersebut muncul pertanyaan yang tidak sederhana: bagaimana seharusnya surplus embrio yang dihasilkan dari proses IVF diperlakukan? Pertanyaan ini bukan hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga menyentuh persoalan moral, agama, martabat manusia, dan nilai kehidupan.
Melalui RABOAN (Research and Perspective Sharing) Discussion Special Series 3, Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) FK-KMK UGM menghadirkan ruang dialog untuk membahas persoalan tersebut melalui perspektif Katolik dan Hindu dalam tema “Biology and Belief: Charting the Ethics of Surplus Embryo Utilization.” Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus 2026, pukul 13.00–14.30 WIB secara daring melalui Zoom dan disiarkan melalui YouTube CBMH UGM.

Diskusi menghadirkan Dr. Antonius Baur Asmoro, Pr. dari Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, Guru Besar dan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSUP Dr. Sardjito, sebagai pembicara. Diskusi dipandu oleh Prof. Syafaatun Almirzanah, MA, M.Th., Ph.D., D.Min., Ketua Center for Spirituality, Science, and Humanity UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dalam diskusi, surplus embrio dipahami sebagai embrio hasil proses IVF yang tidak langsung diimplantasi dan kemudian disimpan untuk penggunaan atau penanganan selanjutnya. Kondisi tersebut menghadirkan sejumlah pilihan, seperti penyimpanan, donasi, adopsi embrio, penelitian, hingga pemusnahan, yang masing-masing membawa konsekuensi etis.
Dari perspektif Katolik, kehidupan manusia dipandang telah dimulai sejak konsepsi. Karena itu, embrio, termasuk embrio surplus, memiliki martabat manusia yang harus dihormati. Penghancuran maupun penggunaan embrio untuk penelitian yang merusaknya tidak dapat diterima. Salah satu perhatian utama yang muncul adalah pentingnya mencegah produksi embrio surplus sejak awal, sehingga persoalan etis tidak hanya diselesaikan pada tahap hilir, tetapi juga dicegah dari sumbernya.
Sementara itu, perspektif Hindu menempatkan kehidupan dalam kerangka spiritual yang berkaitan dengan konsep atman, karma, dan reinkarnasi. Embrio tetap dipandang memiliki nilai kehidupan dan perlu dihormati. Namun, terdapat ruang yang lebih fleksibel dalam mempertimbangkan penggunaan embrio surplus untuk penelitian maupun pengobatan, selama dilakukan dengan niat yang baik dan berorientasi pada pengurangan penderitaan.
Perbedaan perspektif tersebut justru memperlihatkan bahwa persoalan surplus embrio tidak dapat disederhanakan menjadi persoalan benar atau salah semata. Di tengah perbedaan pandangan mengenai status moral embrio, kedua perspektif sama-sama menempatkan kehidupan dan martabat manusia sebagai perhatian penting. Keduanya juga melihat perlunya upaya preventif agar produksi embrio surplus dapat diminimalkan.
Diskusi kemudian berkembang pada berbagai persoalan praktis, mulai dari pengurangan jumlah sel telur yang diambil dalam proses IVF, kemungkinan adopsi embrio, perlunya pertimbangan kasus per kasus, hingga pentingnya menghindari pendekatan pragmatis yang hanya berorientasi pada solusi cepat tanpa mempertimbangkan akar persoalan moral.
Perbedaan perspektif yang dibawa oleh para narasumber menjadikan RABOAN Series 3 sebagai ruang pembelajaran yang mempertemukan ilmu pengetahuan, bioetika, dan keyakinan keagamaan. Peserta tidak hanya diajak memahami perkembangan teknologi IVF, tetapi juga melihat bagaimana suatu persoalan medis dapat memiliki dimensi moral dan spiritual yang beragam.
Antusiasme peserta dalam mengikuti pembahasan menunjukkan bahwa isu bioetika reproduksi masih menjadi topik yang relevan untuk terus diperbincangkan. Dialog lintas perspektif seperti ini menjadi penting agar perkembangan teknologi medis tidak berjalan sendiri, melainkan tetap disertai refleksi mengenai nilai, tanggung jawab, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
RABOAN Series 3 pada akhirnya menegaskan pentingnya dialog multidisiplin dan antaragama dalam menghadapi persoalan bioetika kontemporer. Sebagaimana dirangkum dalam diskusi, kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual, sementara embrio harus tetap dipandang dengan penghormatan dan tidak menjadi objek eksploitasi dalam penelitian maupun komersialisasi.
Pembahasan mengenai etika teknologi reproduksi juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Diskusi ini mendukung SDG 3: Good Health and Well-being melalui penguatan pemahaman mengenai persoalan kesehatan reproduksi dan infertilitas dalam perspektif yang lebih komprehensif.
Di sisi lain, RABOAN turut berkontribusi pada SDG 4: Quality Education dengan menyediakan ruang pembelajaran dan pertukaran pengetahuan mengenai bioetika, teknologi medis, serta perspektif keagamaan. Dialog lintas agama dan disiplin yang dibangun juga sejalan dengan semangat SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions, khususnya dalam membangun budaya dialog, saling memahami, dan pengambilan keputusan yang mempertimbangkan nilai kemanusiaan.
Tonton ulang sesi RABOAN : https://www.youtube.com/watch?v=vwLh26oZJlY
Editor: Rafi





