Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan menjaga kesehatan mental. Aplikasi digital yang dahulu sekadar menjadi alat bantu kini perlahan bertransformasi menjadi mitra interaksi sehari-hari, termasuk dalam ruang-ruang yang sangat personal seperti kesehatan jiwa. Perubahan ini menghadirkan peluang besar, namun sekaligus menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai etika, tanggung jawab, dan martabat manusia di era digital.
SDGs 16
Sleman, 4 Juni 2026 – Tim peneliti melakukan kunjungan ke Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha (BPSTW) Yogyakarta Unit Abiyoso, Pakem, Sleman dalam rangka pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bersama para pemangku kepentingan (stakeholders). Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian yang mengkaji otonomi dan persepsi lansia yang tinggal di panti werdha, dengan tujuan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengalaman hidup, kemandirian, serta kebutuhan lansia dalam lingkungan pelayanan sosial.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk sektor kesehatan. Dalam beberapa tahun terakhir, pemanfaatan AI semakin banyak diterapkan untuk mendukung proses diagnosis, pengambilan keputusan klinis, hingga peningkatan efisiensi pelayanan kesehatan. Namun, di balik berbagai peluang yang ditawarkan, integrasi AI dalam praktik medis juga menghadirkan sejumlah pertanyaan penting terkait etika, keselamatan pasien, perlindungan data, transparansi algoritma, serta tanggung jawab profesional tenaga kesehatan.
Di tengah berbagai upaya pemerataan akses layanan kesehatan di Indonesia, isu mengenai keadilan dalam sistem pelayanan kesehatan terus menjadi perhatian penting. Kehadiran BPJS Kesehatan sebagai sistem Universal Health Coverage sejak tahun 2014 dinilai membawa perubahan besar dalam akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Namun, di balik manfaat tersebut, masih terdapat berbagai tantangan etik, struktural, dan praktis yang perlu terus dikaji bersama.
Hal tersebut menjadi fokus pembahasan dalam diskusi bertajuk “Prinsip Justice di Era BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial)” yang diselenggarakan pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul 13.00–14.30 WIB. Kegiatan ini menghadirkan Dr. CB Kusmaryanto, SCJ dari CBMH FK-KMK UGM dan Universitas Sanata Dharma sebagai narasumber, serta dimoderatori oleh dr. Wika Hartanti, MIH dari CBMH FK-KMK UGM dan UNESCO Chair on Bioethics UGM.
Yogyakarta, 6 Mei 2026 – Female Genital Mutilation (FGM) atau Pemotongan/Pelukaan Genital Perempuan (P2GP) menjadi bahasan yang cukup menarik dalam RABOAN “Research and Perspective Sharing” kali ini. Mengangkat tema “Female Genital Mutilation (FGM): Menimbang Perspektif Kesehatan, Hukum, Agama, dan Budaya dalam Kajian Multidisiplin”, diskusi berlangsung dinamis dan interaktif dengan menghadirkan narasumber pakar Dr. Diah Wulandari, M.Keb (Ketua Program Studi Magister Kebidanan).
Dr. Diah menjelaskan bahwa praktik FGM/P2GP masih banyak ditemukan di Indonesia dan kerap dipertahankan atas nama tradisi, identitas budaya, hingga keyakinan moral terhadap perempuan. Namun, dari perspektif kesehatan dan HAM, praktik ini dinilai tidak memiliki manfaat medis dan berisiko menimbulkan dampak fisik maupun psikologis jangka panjang.
Diskusi berlangsung interaktif dengan menyoroti perdebatan mengenai definisi FGM dan praktik sunat perempuan di Indonesia. Terdapat peserta yang memandang praktik sunat perempuan yang dilakukan secara simbolik berbeda dengan FGM yang banyak ditemukan di negara lain. Namun, perspektif kesehatan dan hak asasi manusia menegaskan bahwa segala bentuk pelukaan genital tanpa indikasi medis tetap memiliki risiko terhadap kesehatan perempuan dan anak perempuan.

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, batas antara edukasi dan persuasi kian menipis. Informasi kesehatan yang seharusnya menjadi rujukan ilmiah kini sering hadir dalam format yang lebih populer, cepat, menarik, namun tidak selalu akurat. Di ruang inilah publik dihadapkan pada dilema, mempercayai konten yang viral atau tetap berpegang pada otoritas ilmiah.
Menjawab dinamika tersebut, Center for Bioethics and Medical Humanities UGM kembali menyelenggarakan webinar rutin “Raboan: Research and Perspective Sharing” dengan tema Public Health Ethics of Health Influencers on Social Media. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 22 April 2026, pukul 13.00 sampai 14.30 WIB, dan disiarkan secara langsung melalui Zoom Meeting serta kanal YouTube CBMH UGM.

Yogyakarta, 15 April 2026 – Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) kembali menyelenggarakan Raboan Discussion Forum dalam edisi spesial Syawalan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang diskusi ilmiah, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi dan kebersamaan pasca periode hari raya.
Acara diawali dengan suasana ramah tamah yang hangat. Moderator, NS Wahyu Dewi Sulistyarini, M.S.N., membuka kegiatan dengan sambutan yang reflektif, mengajak peserta untuk memanfaatkan momentum Syawalan sebagai ruang memperkuat komitmen terhadap integritas, akuntabilitas, dan nilai-nilai etik dalam praktik penelitian. Nuansa kebersamaan ini menjadi pengantar diskusi yang mengangkat topik “Etika dalam Menjaga Akuntabilitas Riset”, sebuah isu penting di tengah meningkatnya tuntutan integritas dalam dunia penelitian.

Yogyakarta, 13 April 2026 — Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan Rapat Perencanaan Kegiatan CBMH & Refreshing Bioethics Contents di Gedung Litbang FK-KMK UGM. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan, advisory board, staf, serta research assistant sebagai langkah strategis dalam menyusun arah program CBMH ke depan.
Rapat ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran CBMH dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mencakup pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Melalui forum ini, CBMH merumuskan berbagai inisiatif yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan, guna memastikan kontribusi nyata di bidang bioetika dan humaniora kesehatan.

Yogyakarta, 10 April 2026 — Upaya memperkuat integritas dan kualitas penelitian terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas komite etik di berbagai institusi. Selama dua hari, pada 9–10 April 2026, Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bersama Universitas Katolik Soegijapranata Semarang menyelenggarakan kegiatan In-House Training bertema “Peningkatan Kompetensi Ethical Review.”
Menguatkan Pengambilan Keputusan Etis dalam Pelayanan Kesehatan melalui HELP Course Batch 7 Series 5

Kompleksitas pelayanan kesehatan modern menuntut tenaga kesehatan tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga memiliki ketajaman analisis etik dalam menghadapi dilema yang semakin beragam. Isu akhir hayat, sengketa medis, inovasi teknologi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam diagnosis menghadirkan tantangan baru yang memerlukan pendekatan profesional, sistematis, dan berbasis nilai kemanusiaan. Menjawab kebutuhan tersebut, Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) FK-KMK UGM kembali menyelenggarakan Certified Courses on Bioethics for Health Professionals (HELP) Batch 7 Series 5 bertajuk “Bioethics in Health Care Services (Part 2)”. Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai institusi layanan kesehatan, rumah sakit, institusi pendidikan, serta organisasi profesi di berbagai daerah di Indonesia.






