
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk sektor kesehatan. Dalam beberapa tahun terakhir, pemanfaatan AI semakin banyak diterapkan untuk mendukung proses diagnosis, pengambilan keputusan klinis, hingga peningkatan efisiensi pelayanan kesehatan. Namun, di balik berbagai peluang yang ditawarkan, integrasi AI dalam praktik medis juga menghadirkan sejumlah pertanyaan penting terkait etika, keselamatan pasien, perlindungan data, transparansi algoritma, serta tanggung jawab profesional tenaga kesehatan.
Sebagai bagian dari upaya memperluas diskusi mengenai perkembangan teknologi kesehatan dan implikasi bioetikanya, Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan Raboan Series yang menghadirkan dr. Devina Yudistiarta, M.Med.Sc., Sp.Rad., Kepala Instalasi Radiologi RS Akademik UGM, sebagai narasumber dan Ika Setyasari, S.Kep.Ns., M.N.Sc sebagai moderator. Dalam sesi bertajuk “Artificial Intelligence in Breast Imaging: Current Applications and Future Perspectives”, dr. Devina memaparkan perkembangan terkini pemanfaatan AI dalam pencitraan payudara (breast imaging) serta berbagai tantangan yang menyertainya.
Dalam paparannya, dr. Devina menjelaskan bahwa AI telah menjadi salah satu teknologi yang menjanjikan dalam bidang radiologi, khususnya untuk mendukung deteksi dini kanker payudara. Pemanfaatan AI dapat ditemukan pada berbagai tahapan pemeriksaan, mulai dari proses skrining, penegakan diagnosis, evaluasi respons terapi, hingga penilaian prognostik pasien. Pada tahap skrining, AI berperan sebagai second reader yang membantu radiolog mengidentifikasi kemungkinan adanya kelainan pada citra mamografi atau ultrasonografi. Kehadiran AI memungkinkan proses interpretasi menjadi lebih cepat sekaligus membantu mengurangi variasi penilaian antar radiolog.
Lebih lanjut, AI juga dimanfaatkan untuk membantu klasifikasi lesi, segmentasi volumetrik, serta stratifikasi risiko kanker payudara. Teknologi berbasis deep learning bahkan telah mampu mempelajari jutaan citra medis untuk mengenali pola-pola yang berhubungan dengan keganasan. Meskipun demikian, dr. Devina menegaskan bahwa AI tidak dirancang untuk menggantikan radiolog. Keputusan diagnosis akhir tetap berada pada dokter yang mempertimbangkan keseluruhan kondisi klinis pasien, hasil pemeriksaan penunjang lainnya, serta konteks medis yang lebih luas.
Selain menjelaskan manfaat AI, seminar ini juga mengulas berbagai tantangan yang masih dihadapi dalam implementasinya. Salah satu isu utama adalah generalizability, yaitu kemampuan sistem AI untuk menghasilkan performa yang konsisten pada populasi yang berbeda. Model AI yang dikembangkan menggunakan data dari negara-negara Barat belum tentu memberikan hasil yang sama pada populasi Asia, yang memiliki karakteristik jaringan payudara lebih padat (dense breast). Kondisi ini dapat memengaruhi sensitivitas deteksi dan meningkatkan risiko hasil negatif palsu.
Tantangan lainnya berkaitan dengan aspek explainability atau kemampuan AI untuk menjelaskan dasar pengambilan keputusannya. Banyak sistem AI masih bekerja sebagai black box, sehingga sulit bagi pengguna untuk memahami alasan di balik suatu rekomendasi diagnostik. Dalam konteks pelayanan kesehatan, transparansi menjadi aspek penting karena berhubungan dengan akuntabilitas profesional dan kepercayaan pasien.
Diskusi juga menyoroti isu perlindungan data dan privasi pasien. Pengembangan sistem AI membutuhkan data dalam jumlah besar, sehingga proses anonimisasi data menjadi langkah yang wajib dilakukan untuk menjaga kerahasiaan informasi pasien. Selain itu, aspek hukum dan etika terkait penggunaan AI dalam praktik klinis masih terus berkembang, termasuk mengenai tanggung jawab profesional apabila terjadi kesalahan interpretasi yang melibatkan sistem AI.
Menariknya, hasil berbagai studi menunjukkan bahwa sebagian pasien masih memiliki keraguan terhadap keterlibatan AI dalam proses diagnosis. Namun demikian, mayoritas pasien juga melihat potensi AI dalam meningkatkan akurasi pemeriksaan dan mendukung pelayanan kesehatan yang lebih efektif. Oleh karena itu, integrasi AI di masa depan perlu dilakukan secara transparan, bertanggung jawab, serta tetap menempatkan hubungan dokter-pasien sebagai elemen utama dalam pelayanan kesehatan.
Pada sesi diskusi, peserta juga mengangkat berbagai pertanyaan terkait penggunaan AI dalam teleradiologi, kebutuhan informed consent khusus untuk teknologi AI, serta kemungkinan AI menjadi standar dalam praktik radiologi di masa depan. Menanggapi hal tersebut, dr. Devina menjelaskan bahwa saat ini AI masih berfungsi sebagai alat bantu pengambilan keputusan dan belum menjadi standar operasional baku di Indonesia. Pengembangan AI yang mampu beradaptasi dengan karakteristik populasi lokal menjadi salah satu agenda penting yang terus mendapat perhatian dalam komunitas ilmiah global.
Melalui kegiatan ini, CBMH FK-KMK UGM kembali menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menghadapi transformasi digital di bidang kesehatan. Kemajuan teknologi perlu diiringi dengan refleksi kritis mengenai aspek bioetika, perlindungan hak pasien, serta penguatan nilai-nilai kemanusiaan dalam praktik pelayanan kesehatan.
Kegiatan ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan dan deteksi dini kanker payudara, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pemanfaatan inovasi teknologi kesehatan berbasis AI, serta SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penguatan tata kelola data, transparansi, dan akuntabilitas dalam penggunaan teknologi kesehatan. Melalui forum akademik seperti ini, CBMH UGM terus berkomitmen mendorong pengembangan teknologi kesehatan yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berlandaskan prinsip-prinsip etika dan kemanusiaan.
Editor: Rafi





