
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, batas antara edukasi dan persuasi kian menipis. Informasi kesehatan yang seharusnya menjadi rujukan ilmiah kini sering hadir dalam format yang lebih populer, cepat, menarik, namun tidak selalu akurat. Di ruang inilah publik dihadapkan pada dilema, mempercayai konten yang viral atau tetap berpegang pada otoritas ilmiah.
Menjawab dinamika tersebut, Center for Bioethics and Medical Humanities UGM kembali menyelenggarakan webinar rutin “Raboan: Research and Perspective Sharing” dengan tema Public Health Ethics of Health Influencers on Social Media. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 22 April 2026, pukul 13.00 sampai 14.30 WIB, dan disiarkan secara langsung melalui Zoom Meeting serta kanal YouTube CBMH UGM.
Webinar ini menghadirkan dr. Anindyo Pradipta Suryo, M.H., dari Department of Bioethics and Humanities, Faculty of Medicine, UNIKA Soegijapranata Semarang, sebagai pembicara utama. Diskusi dipandu oleh Ika Setyasari, S.Kep.Ns., M.N.Sc., yang juga merupakan bagian dari CBMH FK-KMK UGM dan UNESCO Chair on Bioethics UGM.

Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, mencerminkan tingginya minat lintas institusi, mulai dari akademisi, tenaga kesehatan, mahasiswa, hingga praktisi komunikasi dan masyarakat umum. Forum ini menjadi ruang bertukar gagasan yang tidak hanya informatif, tetapi juga reflektif terhadap tantangan etika di era digital.
Dalam pemaparannya, dr. Anindyo menyoroti fenomena meningkatnya peran health influencer dalam membentuk persepsi dan perilaku kesehatan masyarakat. Ia menekankan adanya pergeseran otoritas, di mana kredibilitas sering kali ditentukan oleh jumlah pengikut dan algoritma platform, bukan oleh kompetensi atau validitas ilmiah.
Diskusi kemudian berkembang pada berbagai isu krusial, seperti maraknya misinformasi kesehatan, praktik promosi terselubung atau hidden commercialism, hingga pengaruh algoritma yang cenderung mengedepankan konten emosional dan viral. Selain itu, fenomena parasocial relationship atau kedekatan semu antara influencer dan audiens juga disoroti sebagai faktor yang dapat melemahkan daya kritis masyarakat dalam menilai informasi.
Melalui pendekatan public health ethics, pembahasan tidak hanya berhenti pada aspek individu, tetapi juga melihat dampak yang lebih luas terhadap kesehatan populasi, termasuk isu keadilan, kesetaraan akses informasi, dan perlindungan kelompok rentan. Dalam sesi diskusi, peserta активно mengangkat pertanyaan mengenai batas profesionalisme tenaga kesehatan di media sosial, urgensi regulasi di Indonesia, serta strategi komunikasi yang efektif tanpa mengorbankan integritas ilmiah.
Salah satu poin penting yang mengemuka adalah belum adanya regulasi spesifik di Indonesia yang secara komprehensif mengatur praktik health influencer. Oleh karena itu, forum ini menekankan pentingnya pendekatan ethical stewardship, yaitu pengelolaan ekosistem informasi kesehatan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Kegiatan Raboan ini menegaskan bahwa di era digital, literasi kesehatan tidak hanya soal memahami informasi, tetapi juga kemampuan untuk memilah, mengevaluasi, dan bertanggung jawab atas informasi yang dikonsumsi dan disebarkan.
Sebagai bagian dari kontribusi terhadap agenda global, kegiatan ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals, khususnya poin 3 Good Health and Well-being, poin 4 Quality Education, dan poin 16 Peace, Justice and Strong Institutions. Upaya membangun ekosistem informasi kesehatan yang etis dan terpercaya menjadi langkah penting dalam menciptakan masyarakat yang sehat, kritis, dan berdaya di tengah lanskap digital yang terus berkembang.
Tonton video rekaman RABOAN 22 April 2026 :
Editor : Rafi





