Semarang, Juni 2026 – Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan kapasitas bioetika dan etika klinik melalui partisipasi aktif dalam Workshop Clinical Ethics Deliberation yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring pada 22 Mei 2026 dan dilanjutkan dengan sesi luring pada 6–7 Juni 2026 di Gedung Mayjen dr. R. Soewondo Sastrodiprojo, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Kampus Tembalang, Semarang.
Pada kegiatan ini, CBMH UGM diwakili oleh Ns. Wahyu Dewi Sulistyarini, MSN sebagai peserta workshop. Selain itu, CBMH UGM juga turut berkontribusi dalam pengayaan materi melalui kehadiran drg. Agnes Bhakti Pratiwi, MPH, PhD sebagai narasumber yang membawakan materi bertajuk “Models of Clinical Ethics Deliberation”.

Materi yang disampaikan oleh drg. Agnes menyoroti berbagai model deliberasi etik klinis yang dapat digunakan untuk membantu tenaga kesehatan dalam menghadapi dilema etik yang muncul dalam praktik pelayanan kesehatan. Deliberasi etik klinis merupakan proses reflektif dan sistematis yang melibatkan berbagai pihak untuk mengeksplorasi nilai-nilai, kepentingan, dan pertimbangan moral yang relevan dalam pengambilan keputusan klinis. Melalui pendekatan ini, tenaga kesehatan diharapkan mampu menghasilkan keputusan yang tidak hanya tepat secara medis, tetapi juga etis, transparan, dan berpusat pada pasien.
Dalam workshop tersebut, drg. Agnes berbagi forum bersama sejumlah pakar bioetika dan etika klinik dari Indonesia maupun internasional. Narasumber lainnya meliputi dr. Bagas Wicaksono dari Universitas Jenderal Soedirman yang membawakan materi “Ethics Education in Indonesia & Palliative Care”, Assoc. Prof. Chan Mei Yoke dari NUS Centre for Bioethics, National University of Singapore sekaligus Chairman of Clinical Ethics Committee KK Women’s and Children’s Hospital yang menyampaikan topik “Relational Autonomy”, serta Dr. Tan Hui Siu, HEC-C, MBE dari Hospital Ethics Service Support Ampang Hospital, Malaysia yang membahas “Mediating Conflict”. Kehadiran para pakar dari berbagai institusi tersebut memberikan perspektif yang kaya mengenai pengembangan etika klinik dan mekanisme pengambilan keputusan etik dalam konteks pelayanan kesehatan yang beragam.
Selain sesi pemaparan materi, workshop juga menghadirkan berbagai kegiatan interaktif, termasuk simulasi kasus (role play), diskusi kelompok, deliberasi etik, serta forum refleksi bersama fasilitator dan peserta. Pendekatan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengaplikasikan konsep-konsep etika klinik secara langsung dalam situasi yang menyerupai praktik nyata.
Melalui keikutsertaannya dalam workshop ini, Wahyu Dewi Sulistyarini memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai berbagai pendekatan dalam analisis etik klinis, termasuk penggunaan Four Box Method sebagai kerangka analisis yang sistematis untuk mengidentifikasi permasalahan etik berdasarkan indikasi medis, preferensi pasien, kualitas hidup, dan faktor kontekstual. Peserta juga mempelajari penerapan Moral Case Deliberation (MCD) sebagai metode reflektif dan dialogis dalam menyelesaikan dilema etik yang kompleks di lingkungan pelayanan kesehatan.
Selain itu, workshop memberikan wawasan mengenai pentingnya komunikasi yang efektif dan empatik dengan pasien dan keluarga, khususnya dalam situasi penyampaian informasi yang sulit (breaking bad news), pengambilan keputusan dalam pelayanan paliatif, serta isu-isu etik pada perawatan akhir kehidupan (end-of-life care). Peserta juga diajak memahami konsep relational autonomy, yaitu pendekatan yang memandang otonomi pasien sebagai sesuatu yang dipengaruhi oleh hubungan sosial, keluarga, budaya, dan lingkungan tempat pasien berada. Konsep ini dinilai sangat relevan dalam konteks masyarakat Indonesia yang memiliki karakteristik kolektivistik dan menjadikan keluarga sebagai bagian penting dalam proses pengambilan keputusan kesehatan.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari workshop ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas CBMH UGM dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di bidang bioetika dan etika klinik. Hasil pembelajaran dari kegiatan ini juga berpotensi untuk didiseminasikan kepada sivitas akademika, tenaga kesehatan, maupun mitra institusi melalui forum ilmiah, diskusi kasus, pelatihan, dan kegiatan pengembangan kapasitas lainnya.
Lebih jauh, partisipasi aktif CBMH UGM dalam workshop ini mencerminkan komitmen institusi untuk terus mendorong penguatan budaya etik dalam pelayanan kesehatan. Di tengah semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan dalam praktik klinis, kemampuan melakukan analisis etik dan deliberasi yang sistematis menjadi aspek penting untuk mendukung pengambilan keputusan yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan terbaik pasien.
Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being melalui penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas, aman, dan berpusat pada pasien, serta SDG 4: Quality Education melalui peningkatan kompetensi dan pengembangan pendidikan bioetika yang berkelanjutan. Dengan memperkuat pemahaman dan praktik etika klinik, CBMH UGM terus berkontribusi dalam mewujudkan sistem kesehatan yang lebih humanis, inklusif, dan berkeadilan bagi masyarakat.
Editor: Rafi





