
Keragaman budaya di Indonesia turut membentuk cara masyarakat memahami kehamilan, persalinan, dan masa setelah melahirkan. Berbagai tradisi dan praktik yang diwariskan antargenerasi dapat menjadi sumber dukungan emosional, memperkuat peran keluarga, serta membangun solidaritas di sekitar ibu. Namun, dalam kondisi tertentu, praktik budaya juga dapat berhadapan dengan prinsip keselamatan ibu dan bayi, hak atas pengambilan keputusan, serta kebutuhan akan pelayanan kesehatan berbasis bukti.
Berangkat dari konteks tersebut, Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) UGM melalui kegiatan RABOAN mengangkat tema “Kajian Etika Perawatan Maternal dalam Budaya Lokal: Menghormati Tradisi, Mengutamakan Keselamatan Ibu” pada Rabu, 16 September 2026. Kegiatan ini menghadirkan Tuti Meihartati, S.ST, M.Kes, Ph.D merupakan wakil rektor I dari Institut Teknologi Kesehatan dan Sains (ITKES) Wiyata Husada Samarinda (WHS), Samarinda, dengan Ika Setyasari, S.Kep.Ns., M.N.Sc dari CBMH FK-KMK UGM dan UNESCO Chair on Bioethics UGM sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Tuti menjelaskan bahwa praktik budaya dalam perawatan maternal tidak selalu harus ditempatkan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan ilmu kesehatan modern. Budaya dapat menjadi sumber daya sosial yang mendukung ibu dan keluarga apabila dipahami dan diintegrasikan secara tepat. Karena itu, tenaga kesehatan perlu membangun pendekatan yang tidak terburu-buru menolak suatu tradisi, melainkan mendengarkan, memahami alasan di balik praktik tersebut, membangun dialog, serta menilai tingkat risikonya.
Peserta diajak memahami bahwa praktik budaya dapat dikategorikan menjadi praktik yang aman, praktik yang masih membutuhkan modifikasi, dan praktik yang berisiko terhadap keselamatan. Praktik yang aman dapat didukung, sementara praktik yang membutuhkan penyesuaian dapat didiskusikan untuk menemukan bentuk yang tetap menghormati nilai budaya sekaligus memenuhi kebutuhan kesehatan. Adapun ketika suatu praktik menimbulkan risiko serius bagi ibu atau bayi, keselamatan menjadi batas yang tidak dapat dikompromikan.
Pembahasan juga menyoroti pentingnya otonomi ibu dalam pengambilan keputusan. Dalam konteks keluarga besar, keputusan terkait kehamilan dan persalinan dapat melibatkan suami, orang tua, maupun anggota keluarga lainnya. Namun, suara, persetujuan, dan hak ibu untuk terlibat dalam keputusan mengenai tubuh dan perawatannya tetap perlu menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Otonomi juga dipahami bukan sebagai keputusan yang harus diambil seorang diri, melainkan sebagai partisipasi sukarela dan berdasarkan informasi yang memadai dengan dukungan lingkungan sekitar.
Melalui sejumlah contoh kasus, termasuk pantangan makanan selama kehamilan, kondisi kegawatdaruratan seperti perdarahan pascapersalinan, serta penggunaan obat herbal selama kehamilan, peserta diajak melihat bagaimana prinsip bioetika dapat digunakan untuk menghadapi dilema dalam praktik klinis. Pendekatan yang ditekankan mencakup mendengarkan terlebih dahulu, mengklarifikasi kondisi medis dan nilai yang dianut pasien, menilai risiko, menjelaskan bukti dengan bahasa yang mudah dipahami, melakukan negosiasi, mengambil keputusan tanpa paksaan, serta mendokumentasikan dan mengevaluasi keputusan secara berkelanjutan.
Lima prinsip etika turut menjadi landasan pembahasan, yaitu autonomy, beneficence, non-maleficence, justice, serta respect and dignity. Prinsip-prinsip tersebut menjadi kompas bagi tenaga kesehatan agar dapat memberikan pelayanan yang tetap menghargai nilai dan budaya masyarakat, tanpa mengesampingkan keselamatan ibu dan bayi.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta dari berbagai institusi di sejumlah wilayah Indonesia turut menyampaikan pengalaman dan pertanyaan terkait tantangan penerapan prinsip etika dalam pelayanan maternal. Salah satu pembahasan yang muncul adalah mengenai peran dukun bayi atau penolong persalinan tradisional. Dalam diskusi, praktik tersebut tidak serta-merta diposisikan sebagai hambatan, tetapi dapat dilihat sebagai bagian dari dukungan sosial dan emosional yang memiliki kedekatan dengan masyarakat. Kolaborasi, komunikasi, pembekalan, serta koordinasi dengan tenaga kesehatan menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi setempat.
Diskusi juga memperlihatkan bahwa penerapan etika dalam pelayanan maternal membutuhkan pendekatan yang kontekstual. Tenaga kesehatan perlu memahami praktik budaya dan alasan masyarakat mempertahankannya, sekaligus memiliki batas yang jelas ketika suatu praktik berpotensi membahayakan ibu atau bayi. Dengan demikian, tujuan pelayanan bukan sekadar memilih antara budaya atau ilmu kesehatan, tetapi mencari ruang integrasi yang memungkinkan nilai budaya yang aman tetap dipertahankan dalam pelayanan kesehatan berbasis bukti.

Melalui RABOAN kali ini, CBMH UGM kembali membuka ruang pembelajaran dan dialog mengenai berbagai persoalan etika kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pembahasan mengenai perawatan maternal dalam budaya lokal menunjukkan bahwa pelayanan yang aman dan bermartabat membutuhkan komunikasi, penghormatan terhadap konteks sosial budaya, serta keterlibatan berbagai pihak dalam pengambilan keputusan.
Kegiatan ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being yang menekankan pentingnya memastikan kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua pada segala usia. Pendekatan pelayanan maternal yang menghormati budaya sekaligus mengutamakan keselamatan dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih inklusif, berpusat pada perempuan, dan dapat diterima oleh masyarakat.
Tonton ulang rekaman sesi raboan: https://www.youtube.com/watch?v=sCBUdKtUEBs




