
Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM kembali menyelenggarakan Raboan Discussion Forum dengan mengangkat tema “Ethical Dimensions on Traditional Medicine Use in Southeast Asia: A Systematic Review of Patient and Practitioner Attitudes”. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 10 Desember 2025 pukul 13.00–14.30 WIB ini menghadirkan narasumber Erlin Erlina, SIP, MA, Ph.D (CBMH FK-KMK UGM – UNESCO Chair on Bioethics UGM) dan dipandu oleh moderator dr. Wika Hartanti, M.I.H (CBMH FK-KMK UGM – UNESCO Chair on Bioethics UGM). Forum dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting serta disiarkan langsung melalui kanal YouTube CBMH UGM.
Diskusi dibuka dengan latar belakang bahwa penggunaan pengobatan tradisional di Asia Tenggara terus meningkat seiring kuatnya keterikatan budaya, spiritualitas, dan nilai-nilai komunal masyarakat. Kompleksitas ini menghadirkan tantangan etik, terutama dalam memastikan keselamatan pasien, menjaga kualitas layanan kesehatan, serta menghormati keyakinan dan praktik lokal. Dalam konteks tersebut, forum ini diadakan untuk memperdalam pemahaman akademik mengenai bagaimana pasien dan tenaga kesehatan memaknai pengobatan tradisional, serta bagaimana praktik tersebut berinteraksi dengan layanan medis modern.
Dalam paparannya, Erlin Erlina menyampaikan hasil tinjauan sistematis terhadap berbagai publikasi ilmiah mengenai pengalaman pasien dalam menggunakan pengobatan tradisional di Asia Tenggara. Kajian tersebut menunjukkan bahwa pemilihan pengobatan tradisional tidak hanya didorong oleh kepercayaan budaya, tetapi juga oleh faktor emosional, spiritual, dan struktur sosial komunal yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Asia. Pengambilan keputusan medis pun kerap dilakukan secara kolektif, sehingga pendekatan otonomi individual yang umum diterapkan dalam konteks bioetika Barat perlu dipahami ulang dalam kerangka yang lebih sensitif budaya.
Diskusi yang berkembang menyoroti pentingnya menemukan titik harmonisasi antara pengobatan tradisional dan pelayanan medis modern. Para peserta sepakat bahwa integrasi kedua pendekatan tidak bertujuan menentukan mana yang lebih unggul, melainkan mencari jalan terbaik untuk memastikan keselamatan pasien. Di sisi lain, minimnya penelitian mengenai perspektif tenaga kesehatan menjadi perhatian penting. Literatur yang tersedia didominasi pandangan pasien, sementara pengalaman dan pertimbangan dokter atau tenaga medis dalam menghadapi pasien pengguna pengobatan tradisional masih jarang terdokumentasi secara akademik. Padahal, variasi respons tenaga kesehatan—mulai dari yang bersifat skeptis hingga yang berupaya menjembatani—berdampak besar terhadap kualitas komunikasi klinis dan hasil layanan kesehatan.
Forum ini juga menegaskan perlunya memperjelas definisi dan kerangka kerja mengenai keselamatan pasien dalam konteks pengobatan tradisional. Meskipun beberapa praktik dinilai bermanfaat, sebagian lainnya menimbulkan risiko medis yang harus menjadi perhatian serius. Pengembangan kajian etik yang menyeluruh diharapkan dapat membantu merumuskan mekanisme integrasi yang tepat, menjaga keberagaman budaya, sekaligus melindungi masyarakat dari praktik yang berpotensi membahayakan.
Menutup sesi diskusi, moderator dr. Wika Hartanti menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan narasumber atas kontribusi pemikiran yang memperkaya perspektif tentang isu ini dan menegaskan bahwa pembahasan mengenai pengobatan tradisional bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat pelayanan kesehatan yang berkeadilan budaya. Hal ini selaras dengan komitmen CBMH UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan akses kesehatan yang inklusif; SDG 4 (Quality Education) melalui diseminasi pengetahuan berbasis riset; serta SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui advokasi pelayanan kesehatan yang menghormati keragaman budaya. Forum ini menjadi langkah konkret CBMH dalam mendorong sistem kesehatan yang lebih peka terhadap nilai-nilai lokal dan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat di Asia Tenggara. Forum diakhiri dengan harapan bahwa hasil kajian ini dapat memberikan masukan yang signifikan bagi penelitian lanjutan, perumusan kebijakan, dan penguatan praktik bioetika di bidang kesehatan masyarakat.
Reporter: Rafi





