
Kompleksitas pelayanan kesehatan modern menuntut tenaga kesehatan tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga memiliki ketajaman analisis etik dalam menghadapi dilema yang semakin beragam. Isu akhir hayat, sengketa medis, inovasi teknologi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam diagnosis menghadirkan tantangan baru yang memerlukan pendekatan profesional, sistematis, dan berbasis nilai kemanusiaan. Menjawab kebutuhan tersebut, Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) FK-KMK UGM kembali menyelenggarakan Certified Courses on Bioethics for Health Professionals (HELP) Batch 7 Series 5 bertajuk “Bioethics in Health Care Services (Part 2)”. Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai institusi layanan kesehatan, rumah sakit, institusi pendidikan, serta organisasi profesi di berbagai daerah di Indonesia.
Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam menganalisis dan menangani dilema etik-legal pada level praktik klinis maupun institusional. Selama enam hari pelaksanaan, peserta memperoleh pendalaman materi mengenai konsultasi etik klinis (clinical ethics consultation), termasuk pembedaan peran antara komite etik sebagai penyusun kebijakan dan mekanisme konsultasi etik dalam penanganan kasus konkret. Diskusi juga mencakup isu kapasitas mental dan surrogate decision making, yang menuntut tenaga kesehatan mampu mengambil keputusan secara hati-hati ketika pasien tidak kompeten serta menghadapi dinamika keluarga dalam situasi kritis.
Isu end-of-life menjadi fokus penting dalam seri ini, terutama terkait dilema medical futility dan prosedur withholding maupun withdrawing life-sustaining treatment sesuai regulasi dan prinsip etik. Peserta juga mendalami penggunaan sedasi paliatif, pemberian opioid, serta perdebatan etis terkait penghentian nutrisi dan hidrasi buatan pada pasien terminal melalui pendekatan prinsip double effect. Pembahasan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara pertimbangan klinis, regulasi, dan nilai kemanusiaan dalam praktik pelayanan kesehatan.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, HELP Batch 7 Series 5 turut mengangkat topik genomik dan pengobatan presisi, termasuk tantangan incidental findings dan hak pasien untuk mengetahui atau tidak mengetahui informasi genetik. Selain itu, etika kecerdasan buatan dan big data dalam pelayanan kesehatan menjadi perhatian khusus, dengan penekanan pada risiko bias algoritma, perlindungan privasi data, serta pentingnya menjaga dimensi empati dalam praktik medis berbasis teknologi.
Aspek penyelesaian sengketa medis juga dibahas secara komprehensif dengan membedakan ranah etik, disiplin, dan hukum, serta menyoroti peran mediasi sebagai alternatif penyelesaian konflik di luar litigasi. Rangkaian kegiatan mencapai puncaknya melalui presentasi kasus dilema etik dari peserta yang dianalisis secara sistematis menggunakan pendekatan Ethical Toolkit, sehingga seluruh materi terintegrasi dalam refleksi praktik nyata di lapangan.
HELP Batch 7 Series 5 menghadirkan narasumber multidisipliner, antara lain Prof. Dr. Christantie Effendy, S.Kp., M.Kes., Prof. dr. Sofia Mubarika Haryana, M.Med.Sc., Ph.D., Dr. C.B. Kusmaryanto, SCJ, Banu Hermawan, S.H., M.H.Li., Dr. dr. Darwito, S.H., Sp.B.Subsp.Onk (K), drg. Agnes Bhakti Pratiwi, M.P.H., Ph.D., Dr. dr. Ronny Tri Wirasto, Sp.KJ(K), dr. Nur Azid Mahardinata, M.Bio.Et., dr. Galuh Dyah Fatmala, Ika Setyasari, S.Kep.Ns., M.N.Sc., Ns. Wahyu Dewi Sulistyarini, M.S.N., serta dr. Wika Hartanti, MIH., yang memberikan perspektif klinis, hukum kesehatan, kebijakan, dan akademik secara komprehensif.
Melalui penyelenggaraan HELP, CBMH FK-KMK UGM menegaskan komitmennya dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions), melalui penguatan kapasitas etik tenaga kesehatan dan tata kelola pelayanan kesehatan yang profesional, humanis, dan berintegritas.
Editor : Rafi





