
Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) FK-KMK bersama Program Studi Magister Bioetika UGM kembali menyelenggarakan Certified Courses on Bioethics for Health Professionals (Humanity–Ethical–Legal–Professional Aspects) seri keempat dengan tema “Bioethics in Health Care Services (Part 1)”. Pelatihan yang berlangsung selama enam hari, mulai 26 November hingga 3 Desember 2025, ini dirancang untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan tenaga kesehatan dalam menghadapi dilema etik di layanan kesehatan Indonesia yang semakin kompleks.
Pelatihan seri keempat ini mengangkat fokus utama pada fondasi, analisis kasus, dan dilema klinis dalam konteks sosio-kultural Indonesia. Melalui rangkaian sesi komprehensif, peserta dibekali berbagai kerangka kerja etik yang dapat digunakan untuk menganalisis situasi klinis yang rumit, mulai dari four principles, four-box method, hingga pendekatan kasuistik. Pembukaan pelatihan dipimpin oleh panitia dan dilanjutkan dengan sesi pengantar oleh dr. Nur Azid Mahardinata, M.Bio.Et, yang menekankan pentingnya pembentukan ekspektasi bersama dalam proses pembelajaran.
Pada hari pertama, Dr. CB Kusmaryanto, SCJ menyampaikan materi mengenai pemikiran kritis terhadap empat kaidah dasar bioetika serta keterbatasannya ketika diterapkan pada kasus-kasus yang sarat nuansa budaya dan agama. Diskusi dilanjutkan dengan pemaparan mengenai beragam framework etik oleh dr. Nur Azid, yang membantu peserta membandingkan dan memilih pendekatan paling tepat sesuai konteks klinis yang dihadapi.
Hari kedua mengangkat isu-isu fundamental dalam hubungan dokter-pasien. Dr. dr. Siswanto Sastrowitjoto, Sp.THT(K) mengajak peserta mengevaluasi validitas informed consent dalam situasi kompleks seperti menurunnya kapasitas pengambilan keputusan atau intervensi keluarga. Sesi ini berjalan dinamis melalui studi kasus di ruang breakout. Dilanjutkan oleh dr. Nur Azid, peserta mempelajari tantangan kerahasiaan medis di era digital dan telemedicine serta bagaimana menerapkan mitigasi risiko sesuai regulasi.
Pada hari ketiga, pelatihan berfokus pada keterampilan etis dan sensitivitas kultural. Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si, Ph.D membahas komunikasi sebagai bentuk perilaku etis dan mendemonstrasikan penyampaian berita buruk secara empatik melalui simulasi role-playing. Sementara itu, Prof. Syafaatun Almirzanah, M.A, M.Th, Ph.D, D.Min menggali pentingnya cultural competence dalam praktik klinis, terutama bagaimana nilai budaya pasien dapat diintegrasikan dalam pengambilan keputusan medis tanpa mengabaikan standar profesional.

Hari keempat menghadirkan pembahasan dilema etik di awal kehidupan. Dr. Agung Dewanto, Sp.OG(K), Ph.D membimbing peserta dalam menganalisis isu-isu terkait teknologi reproduksi berbantu seperti IVF, surogasi, dan seleksi embrio melalui debat terstruktur. Dilanjutkan oleh Dr. Endah Rahmawati, Sp.OG, Ph.D, peserta berdiskusi mengenai etik diagnosis dan terapi pra-kelahiran serta strategi konseling ketika ditemukan kelainan genetik.
Pada hari kelima, pelatihan menyoroti dilema etik dalam perawatan populasi rentan. Dr. dr. Nurnaningsih, Sp.A(K) mengulas penerapan prinsip kepentingan terbaik anak dalam pengambilan keputusan medis pada neonatus dan anak, termasuk isu vaksinasi dan perawatan intensif. Kemudian, Dr. dr. Probosuseno, Sp.PD, K.Ger, SE, MM membahas tantangan etik dalam merawat pasien lansia, khususnya dalam membedakan perawatan yang bermanfaat dan perawatan sia-sia (futile care) serta menghargai otonomi pasien dalam kondisi kapasitas menurun.
Pelatihan ditutup pada 3 Desember 2025 dengan sesi integrasi aspek legal yang disampaikan oleh Dr. dr. Darwito, SH, Sp.B, Subsp.Onk(K). Sesi ini memberikan pemahaman komprehensif mengenai perlindungan hukum bagi dokter dan institusi kesehatan, termasuk perbedaan antara pelanggaran etik, disiplin, dan malpraktik serta strategi mitigasi risiko melalui dokumentasi medis yang baik. Rangkaian kegiatan diakhiri dengan sesi mengenai organisasi etik di institusi kesehatan, post-test, serta refleksi peserta sebagai evaluasi peningkatan kompetensi.
Kegiatan pelatihan ini mempertegas komitmen CBMH UGM dalam mendukung peningkatan kapasitas tenaga kesehatan Indonesia, tidak hanya dari aspek pengetahuan etik, tetapi juga sensitivitas budaya, keterampilan komunikasi, dan pemahaman hukum. Melalui pelatihan berkelanjutan seperti ini, CBMH UGM berupaya memperkuat kualitas layanan kesehatan nasional sekaligus mendorong pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 10 (Reduced Inequalities).
Reporter : Rafi





